PJJ dan PTM Terbatas, Mana Lebih Unggul?
Judul : PJJ dan PTM Terbatas, Mana Lebih Unggul?
Penulis : Haifa Bilqis
Tak berlebihan mengatakan virus covid-19 mengguncang dunia dalam segala aspek kehidupan. Tatanan kehidupan seolah luluh lantah karena penyebab yang bahkan tak bisa dilihat oleh mata telanjang, namun, memiliki dampak luar biasa dan memaksa dunia kini harus menghadapi pandemi. Dunia kesehatan jelas terguncang karena adanya invasi tak diundang dari virus Corona, tenaga kesehatan dibuat kewalahan oleh ulah organisme mikroskopis yang ukurannya tak lebih dari 0,1 mikron. Begitupun dengan aspek kehidupan lainnya, sebut saja dengan dunia pendidikan yang ikut terkena imbas dari virus ini. Berjalan selama hampir 2 tahun, semua instansi pendidikan harus merasakan pengalaman baru dan terpaksa harus terbiasa dengan kebiasaan baru ini.
Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, bahkan perguruan tinggi harus merelakan seluruh aktivitas yang berlangsung di sekolah karena pandemi ini ditiadakan untuk sementara waktu. Baik murid maupun para guru atau dosen harus menggigit jari karena keadaan yang memaksa kita semua berdiam diri di rumah. Pemerintah ketar-ketir karena selain memikirkan kesehatan seluruh masyarakat, kini juga dihadapkan dengan masalah baru yang tak kalah pentingnya. Masa depan para siswa dan mahasiswa yang dipertaruhkan karena peniadaan aktivitas pembelajaran secara langsung menemukan titik terang, penerapan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) menjadi jawabannya. Kemudian, dengan bertahap pemerintah menerapkan sistem PTM terbatas. Di dalam penerapannya, kedua sistem ini memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
PJJ atau juga dikenal dengan pembelajaran online atau daring merupakan salah satu bukti perkembangan teknologi yang semakin pesat. Meskipun teknologi terus berkembang pesat, kerap kali ditemukan beberapa orang yang gaptek atau gagap teknologi karena ketidakpahamannya terhadap teknologi. Masih banyak guru atau dosen yang masih canggung dalam menggunakan teknologi sebagai media pembelajarannya, seperti zoom, google classroom, schoology, dan lain sebagainya. Hal ini dibuktikan dengan tidak hadirnya beberapa guru atau dosen dalam jam pelajarannya dan melewatkan kesempatan tersebut untuk mengajar karena tidak mengerti bagaimana cara mengoperasikan media tersebut. Lalu bagaimana dengan para siswa yang harusnya mengerti dengan perkembangan teknologi saat ini? Mengingat para siswa atau mahasiswa saat ini merupakan mereka yang biasa disebut sebagai gen Z. Kenyataannya, beberapa dari mereka masih kewalahan dalam menggunakan media yang digunakan dalam pembelajaran. Hal ini didorong dengan kenyataan bahwa gen Z lebih sering menerapkan perkembangan teknologi untuk konsumsi hiburan seperti sosial media atau games. Ada baiknya sebagai gen Z, kita juga ikut terlibat hal positif dalam perkembangan teknologi. Kendala lain yang dirasakan dalam PJJ ini adalah belum terdistribusinya sarana yang dibutuhkan seperti laptop, smartphone, kuota dan lain sebagainya dengan rata. Masih banyak berita memilukan mengenai perjuangan para siswa yang harus berjalan puluhan kilometer hanya demi jaringan lancar untuk mengikuti video conference. Dan meskipun smartphone telah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang sulit dipisahkan, masih banyak siswa yang belum memiliki smartphone sehingga pelaksanaan PJJ tidak dapat terlaksana dengan baik. Pemerintah harus membuka mata terhadap fakta ini dan mulai mencari solusi dari permasalahan yang tengah terjadi.
Meskipun demikian, penerapan PJJ ini tidak sepenuhnya kelabu. Menurut saya, PJJ sendiri memiliki waktu dan tempat yang lebih fleksibel dalam pelaksanaannya dibandingkan dengan PTM, PJJ dapat dilaksanakan dimanapun dan kapanpun. PJJ juga dinilai lebih praktis karena lebih sering menggunakan aplikasi sehingga para siswa dapat mengirim tugasnya meskipun berdiam diri di rumah, tugas yang masuk ke aplikasi juga tidak akan tercecer sehingga memudahkan para guru dalam menilai dan memeriksa tugas para siswa. Hal lain yang menjadi keuntungan dari PJJ adalah penyebaran virus covid-19 yang dapat diminimalisir karena baik guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa tidak bertemu secara langsung sehingga penyebaran virus covid-19 dapat dicegah.
Namun, apakah penerapan PJJ dapat dikatakan efektif? Jawabannya adalah tidak. Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim bahkan mengatakan bahwa PJJ sudah tidak lagi efektif. Hal ini dikarenakan timbulnya rasa bosan dan jenuh pada siswa dikarenakan terlalu lama berdiam diri di rumah, lama tidak bertemu dengan teman dan guru, dan lingkungan belajar yang tidak kondusif. Selain itu, pemahaman materi dari siswa menjadi salah satu alasan PJJ tidak dapat dikatakan efektif. Tidak hanya satu atau dua orang siswa yang mengeluh karena kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan melalui video conference, hal ini dapat terjadi karena lingkungan belajar yang tidak kondusif sehingga menganggu konsentrasi atau kemampuan dari tenaga pengajar yang juga kesulitan dalam beradaptasi dengan sistem PJJ ini. Mengingat sistem PJJ yang sudah tidak lagi efektif, Nadiem Makarim kemudian mendorong adanya PTM (Pembelajaran Tatap Muka).
Bukan pembelajaran tatap muka biasa, pembelajaran tatap muka kali ini dihiasi dengan komplemen yang tidak dapat dipisahkan, yaitu protokol kesehatan. Para siswa dan guru kini harus terbiasa saling bertemu satu sama lain dengan tetap menggunakan masker dan menjaga jarak. PTM terbatas yang diterapkan mengimbau sekolah hanya mengizinkan 50% siswa perkelasnya. Dari pelaksanaannya, PTM dinilai lebih efektif. Hal ini dikarenakan siswa dan guru dapat bertemu secara langsung, guru dapat menjelaskan materi dengan leluasa dan siswa dapat bertanya atau mengemukakan pendapat dengan bebas tanpa terkendala “ketidaktahuan” terhadap penerapan teknologi. Interaksi antara siswa dengan guru atau siswa dengan siswa juga dinilai menghilangkan rasa bosan dan jenuh karena terus terkurung di dalam rumah selama hampir 2 tahun. Penerapan PTM yang berlangsung di sekolah juga lebih memicu konsentrasi siswa dibandingkan dengan PJJ karena lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung untuk melangsungkan pembelajaran. PTM terbatas juga dilaksanakan sebagai upaya penyelamatan para siswa dari dampak pelaksanaan PJJ berkepanjangan. Dampak yang sangat diantisipasi, diantaranya putus sekolah, penurunan capaian pembelajaran, dan kesehatan mental serta psikis anak-anak. Berdasarkan riset INOVASI dan Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, tingkat putus sekolah di Indonesia meningkat sebesar 1,12 persen, di mana angka tersebut 10 kali lipat dari Angka Putus SD Tahun 2019. Bank Dunia memperkirakan, saat ini di Indonesia ada 118.000 anak usia SD yang tidak bersekolah.
PTM terbatas memang menjadi sistem pembelajaran paling efektif dibandingkan dengan PJJ di masa pandemi ini, namun, menurut saya masih terdapat beberapa kekurangan pada sistem PTM terbatas. Kekurangan yang pertama dilihat dari durasi PTM yang lebih singkat dibandingkan dengan PJJ, pelaksaan PTM terbatas pada umunya hanya berlangsung selama 2-3 hari dalam seminggu dan tidak mengikuti jam pelajaran biasanya dikarenakan adanya pembagian sesi untuk setiap siswa. Hal ini kemudian mendorong penyampaian materi yang tidak maksimal karena terbatas oleh waktu. Kekurangan kedua adalah risiko penyebaran covid-19 yang tinggi, meski PTM terbatas tak pernah dapat dipisahkan dengan protokol kesehatan yang ketat, masih saja ada beberapa siswa ataupun guru yang melupakan pelaksanaan protokol kesehatan seperti, melepas masker, tidak menjaga jarak, tidak mencuci tangan, dan lain sebagainya. Mobilitas para siswa di luar sekolah yang sangat tinggi juga dapat meningkatkan risiko penyebaran covid-19 saat berada di dalam lingkungan sekolah.
Pandemi covid-19 tidak hanya mengguncang aspek kesehatan namun, segala aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan yang erat kaitannya dengan kita semua. Ditengah segala ketakutan dan ketidakpastian yang masih belum jelas akhirnya, kita semua dipaksa untuk berdiam diri di rumah dan melaksanakan segala kegiatan dari rumah. Pemerintah menerapkan sistem PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) yang memanfaatkan perkembangan teknologi, telinga kita yang masih asing dengan aplikasi sejenis zoom, google classroom, schoology, dan lain sebagainya kini dipaksa beradaptasi dan menjadikannya bagian dari kehidupan kita. PJJ yang terus berjalan ternyata tidak menjamin keefektifan dari sistem tersebut, pemerintah kemudian menerapkan sistem PTM (Pertemuan Tatap Muka) terbatas. PTM terbatas menjadi jawaban dari segala kegelisahan PJJ yang dinilai tidak efektif lagi. Meskipun PTM dinilai sebagai sistem pembelajaran paling efektif di masa pandemi ini, penerapannya masih tidak luput dari kekurangan jika dibandingkan dengan sistem pembelajaran tatap muka sebelum pandemi.
topik yang diangkat begitu relevan dengan apa yang terjadi saat ini, penulisannya rapi, struktur dan kaidahnya sudah tepat, keren!
BalasHapusTeks esai sudah berisi pandangan pribadi penulis mengenai suatu objek atau fenomena. Selain itu penulis juga sangat jeli dalam menemukan aspek-aspek menarik dari sebuah objek atau fenomena yang dibahas, argumen yang dicantumkan pada teks esai ini juga sudah logis, sehingga menurut saya dapat diterima oleh pembaca. Gaya bahasa yang digunakan juga mengalir, namun tetap sesuai dengan struktur, hal ini membuat teks esai semakin menarik untuk dibaca
BalasHapusTopik essai nya sangat berkaitan dengan masa sekarang dimana masa sekarang masih menerapkan pembelajaran "blended learning" online dan offline, dan di essai ini haifa dapat menyimpulkan mana metode pembelajaran yang lebih baik dan efektif, haifa kerenn semangat berkarya terus haifaaaa !
BalasHapus